Beberapa pekan terakhir media kita hangat membahas mengenai pemindahan ibu kota negara. Hal ini dipicu oleh pernyataan presiden Jokowi di beberapa kesempatan yang menyatakan bahwa beliau hendak memindahkan pusat pemerintahan negara Indonesia keluar dari Jakarta.

Jakarta, sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia kini memiliki beban yang sangat berat. Masalah pencemaran lingkungan, keruwetan transportasi dan banjir menjadi pekerjaan rutin yang seperti tak ada solusinya.

Kota berpenduduk 10 juta jiwa ini bahkan terancam tenggelam.

Ya. Anda tidak salah baca. Jakarta terancam tenggelam. Bahkan menurut prediksi, lebih dari 95% dari Jakarta utara akan menjadi genangan air pada tahun 2050.

Bagaimana ini bisa terjadi?

Pemanasan global menjadi salah satu isu yang sering dikaitkan. Peningkatan suhu atmosfer Bumi telah mencairkan bongkahan es abadi yang ada di kutub. Hal ini memperluas wilayah samudra yang pada akhirnya menenggelamkan daratan, termasuk kota Jakarta.

Namun tahukah anda, ternyata hal tersebut bukanlah masalah utama yang menyebabkan Jakarta tenggelam. Hal yang lebih mengkhawatirkan ternyata adalah akibat dari adanya penurunan permukaan tanah Jakarta itu sendiri. Menurut kajian, Jakarta bagian utara telah mengalami penurunan sedalam 4 meter dalam rentang waktu 1925 hingga 2015. Saat ini, secara rata-rata, penurunan permukaan tanah di Jakarta berkisar antara 1-15 cm setiap tahun. Ini menjadikan Jakarta menyandang predikat “the most sinking city in the world“.

Pemicu utama terjadinya penurunan permukaan tanah ini adalah karena adanya ekstraksi air tanah secara masif.

Sudah rahasia umum bahwasanya Jakarta tidak memiliki jalur saluran air bersih yang memadai. PAM sebagai badan utama yang bertanggung jawab memasok air ke masyarakat baru bisa menjangkau 40% dari kebutuhan kota. Sisanya, umumnya menggunakan air tanah. Para penduduk dan pelaku industri membuat sumur sendiri untuk memenuhi kebutuhan mereka masing-masing.

Aktifitas ekstraksi air ini menyebabkan pori-pori sedimen bawah tanah menjadi kosong (yang tadinya berisi air), sehingga memaksa terjadinya pemampatan yang mengakibatkan amblesan (penurunan permukaan tanah). Aktifitas ini dipercepat lagi oleh masifnya pembangunan fisik Jakarta di atas permukaan, serta ditambah minimnya ruang terbuka hijau yang berguna untuk menyerap air kembali ke dalam tanah.

Penjelasan diatas memperlihatkan bahwa ada dua permasalahan yang menyebabkan Jakarta menjadi kota tenggelam. Pertama, permukaan air laut kian hari kian tinggi, dan kedua, permukaan tanah Jakarta kian hari kian turun (amblas).

Salah satu solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan pencarian sumber air utama untuk digunakan penduduk sehingga mereka tidak lagi menggunakan air tanah.

Leave a Comment

Categories

Upcoming Events

No results found.

facebook