Beberapa abad silam mungkin kita hanya bisa membayangkan bagaimana sebenarnya bentuk permukaan bumi di dasar samudra, apalagi hingga melihat zona patahan (ZP) yang terkubur beberapa kilometer di bawah tumpukan sedimen di bawah dasar samudra tersebut. Seiring dengan berkembangnya teknologi, misteri tersebut kian terkuak.

Pemetaan ZP di bawah dasar samudra menjadi penting karena pengetahuan tersebut bisa digunakan untuk mengungkapkan batasan pemisahan benua maupun bentuk geometri dasar permukaan samudra itu sendiri. Pendeteksian ZP menjadi sulit terlebih karena biasanya area ini terkubur hingga ribuan kilometer oleh sedimen. Oleh karena itu, bentuk permukaan dasar laut yang selama ini terlihat sepertinya hanya datar-datar saja.

Pada tahun 2014, sekumpulan ilmuwan mempublikasikan sebuah metode guna memetakan kondisi permukaan dasar samudra dengan menggunakan global marine gravity yang berasal dari data altimetri satelit. Penelitian ini menggunakan data terbaru yang diperoleh dari satelit European Space Agency’s (ESA) CryoSat-2 dan NASA Jason-1. Kedua satelit ini ditugaskan untuk mendapatkan data medan gravitasi diatas permukaan samudra yang kemudian di proses untuk diterjemahkan menjadi gambaran dasar samudra. Hasil dari penelitian yang dilakukan cukup mencengangkan karena mereka bisa memetakan kondisi bawah samudra dengan cukup detail bila dibandingkan dengan penelitian-penelitian sebelumnya. Ini sangat bermanfaat untuk perkembangan eksplorasi bawah laut guna memahami aspek-aspek geometri yang selama ini masih menjadi misteri.

Leave a Comment

Categories

Upcoming Events

No results found.

facebook